Tempo.Co

Terorisme Masih Ada di Indonesia
Rabu, 13 April 2016
Khusus di Indonesia, yang sebagian besar penduduknya beragama Islam, penanggulangan terorisme tidak akan pernah selesai

Komisi III DPR RI menegaskan bahwa Indonesia menyatakan ‘perang’ pada tiga hal yang merugikan bangsa Indonesia. Anggota Komisi III Daeng Muhammad mengatakan tiga hal tersebut adalah narkoba, korupsi, dan terorisme. Karena itu, ketiganya harus diperangi bersama.

“Bagaimana untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya dalam Rapat Kerja dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Indonesia di Ruang Rapat Komisi III, Rabu, 13 April 2016.

Dalam rapat yang dipimpin Trimedya Panjaitan itu hadir juga Kepala BNPT Komisaris Jenderal Polisi Tito Karnavian.

Dalam kesempatan itu, Daeng berharap BNPT melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya terorisme. Kerja Ketua RT, Ketua RW, Babinsa atau Bimaspol harus dimaksimalkan.

“Kenapa selama ini tidak ada sosialisasi pola perlindungan terhadap masyarakat? Padahal itu perlu dilakukan,” kata Daeng.

Anggota Komisi III Wihadi Wiyanto mengatakan masyarakat sudah semakin tidak peduli pada bahaya terorisme. Padahal terorisme juga mengancam kehidupan masyarakat.

Tito mengatakan, dalam pencegahan, BNPT akan semakin gencar melakukan sosialisasi tentang terorisme. Dia mengakui jika aksi terorisme masih ada di tengah-tengah masyarakat. Namun, menurut Tito, terorisme tidak berkaitan dengan agama tertentu. Terorisme dilakukan karena motif ideologi dan perjuangan politik.

Untuk mencegah aksi terorisme, BNPT butuh bantuan secara global. Khusus di Indonesia, yang sebagian besar penduduknya beragama Islam, penanggulangan terorisme tidak akan pernah selesai selama masih ada pengaruh dari Suriah dan Afganistan.

Bicara tentang kasus Siyono, Tito menjelaskan, BNPT telah memastikan Siyono benar berada dalam jaringan Jamaah Islamiah. (*)