Tempo.Co

Pentingnya Sosialisasi Bagi Tenaga Kerja Indonesia
Kamis, 10 Mei 2018
Anggota Komisi IX DPR RI Imam Suroso mengatakan jika parlemen ikut mendorong kemajuan bagi pekerja imigran. Kamis, 10 Mei 2018. (Foto: Dok. DPR)

Untuk memberi pemahaman lebih luas mengenai penempatan dan perlindungan pekerja migran Indonesia (PMI), Anggota Komisi IX DPR Imam Suroso menggelar sosialisasi di Kecamatan Gembong ,Pati Jawa Tengah (Jateng), Rabu 9 Mei 2018. Dengan tema ‘Peluang Kerja Luar Negeri dan Migrasi Aman’, ada 200 calon tenaga kerja Indonesia (TKI), mantan tenaga kerja dari luar negeri, para keluarga, pejabat BNP2TKI, APJATI Jateng, Kemnakertrans Provinsi Jateng serta Camat Gembong Cipto Mangun Oneng.  

Tema tentang tenaga kerja migran ini disampaikan lantaran kesempatan kerja di Pati sangat terbatas dan membuka peluang bagi angkatan kerja yang terus meningkat. Sosialisasi ini juga diharapkan mendorong mantan TKI dari Jepang maupun Korea agar optimis membuka usaha atau berwirausaha di tanah air.

Bagi para tenaga kerja yang akan ditempatkan di negara lain, sosialisasi ini penting untuk menyampaikan informasi bagaimana migrasi yang aman, mencegah dampak negatif penipuan, bagaimana jika gaji tak dibayar hingga pemahaman mengenai hukuman mati di negara tertentu.

"Intinya kita ingin pengiriman TKI bisa berdampak positif bagi peningkatan devisa, peningkatan kesejahteraaan masyarakat tanpa ada hal-hal yang merugikan TKI," katanya.

Parlemen, ujar pria yang kerap disapa Mbah Roso ini, terus mendorong kemajuan bagi pekerja migrant. Ketika ditemukan kasus TKI terancam hukuman mati karena kasus kriminal atau narkoba, parlemen bekerjasama dengan Kemenlu, BNP2TKI berhasil melakukan diplomasi dan membebaskan tenaga kerja tersebut.

Dalam hal anggaran, DPR juga selalu memperjuangkan pekerja migran. Pada 2017, BNP2TKI menerima dana Rp 300 miliar. Kemudian, 2018, anggaran itu meningkat menjadi Rp 400 miliar

"Pengelolaan anggaran ini akan kita kawal, kita awasi. Supaya semakin maju untuk kepentingan rakyat," ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Mbah Roso juga mengunjungi mitra kerja binaan mantan TKI di Malaysia dan Korea yang sukses berwirausaha dan membuka lapangan kerja di desanya. Salah satu tenaga kerja yang pernah bekerja di luar negeri yakni Bang Udin. Bang Udin kini sudah membuka usaha jamur beromset Rp 30 juta perbulan dan dibantu tenaga kerja 25 orang. Ada juga Hadi, mantan TKI dari Korsel ini memiliki peternakan ayam dengan 47 kandang yang menyerap ratusan pekerja dan omset  mencapai miliaran rupiah.

"Ini beberapa contoh pembinaan pekerja migran yang sukses. Obsesi saya program ini ditingkatkan sehingga kita tak perlu kirim TKI keluar negeri. Mantan TKI bisa berwirausaha membantu angkatan kerja akan terus bertambah," ujar dia. (*)