Tempo.Co

Forhati Diminta Fokus pada Gerakan Sosial dan Intelektual
Rabu, 26 September 2018
Ketua DPR RI Bambang Soesatyo meminta para alumni Himpunan Mahasiswa Islam Wati (FORHATI) tetap fokus pada gerakan sosial dan intelektualisme. Kamis, 27 September 2018. Foto Dok. DPR RI

INFO DPR - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo meminta para alumni Himpunan Mahasiswa Islam Wati (Forhati) tetap fokus pada gerakan sosial dan intelektualisme, termasuk memfasilitasi anggotanya yang sekarang sedang berjuang menjadi calon legislatif (caleg) dari berbagai partai politik. Segala sumber daya yang dimiliki harus dikerahkan untuk meraih simpati dan dukungan dari rakyat.

"Semua caleg, baik laki-laki maupun perempuan, mempunyai peluang yang sama untuk terpilih. Jenis kelamin serta nomor urut bukan jaminan untuk menang. Kata kuncinya ada pada ikhtiar, kesungguhan dan kerja keras," ujar Bamsoet saat mengisi pelatihan "Sekolah Demokrasi Insan Cita" yang diselenggarakan Majelis Nasional Forhati di Jakarta, Rabu, 26 September 2018.

Dia menyampaikan kiat untuk menang dalam pemilihan. Semua caleg harus membangun jaringan, menyusun strategi dan membuat program sesuai dapilnya masing-masing. Terpenting, hindari politik yang berbau SARA dan hoax. Karena hanya akan membuat bangsa ini porak-poranda, saling membenci dan saling bermusuhan.

Menurutnya, salah satu media kampanye yang murah tetapi efektif adalah kampanye melalui media sosial. Ini sangat cocok bagi caleg perempuan yang tergabung dalam Forhati.

"Media sosial adalah lahan yang subur untuk menembus ceruk kaum milenial. Ayo rebut simpati kaum milenial melalui media sosial. Untuk kampanye di media sosial, modalnya hanya hanya satu, yaitu harus kreatif dan inovatif," terang Bamsoet.

Legislator Dapil VII Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara dan Kebumen ini menjelaskan, walaupun disibukkan dengan kampanye, namun para caleg Forhati jangan melihat pemilu sebagai pesta demokrasi lima tahunan semata. Akan tetapi yang lebih esensi, pemilu adalah sarana untuk menentukan arah perjalanan bangsa lima tahun ke depan.

"Semua pihak, termasuk caleg, harus menyiapkan diri dan mengembangkan tradisi bahwa berkompetisi tidak harus saling menjatuhkan. Berbeda tidak harus saling bermusuhan," kata Bamsoet.

Menurutnya, perbedaan politik dalam demokrasi adalah hal biasa dan lumrah. Bersaing harus dilakukan secara sehat. Saling meninggikan keunggulan masing-masing boleh dilakukan, yang harus dihindari saling merendahkan, saling menghujat atau saling mencaci maki sesama caleg.

"Mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah contoh berdemokrasi yang damai dan bermartabat," pungkas Bamsoet. (*)