Tempo.Co

Sumpah Pemuda, Waspadai Jebakan Teknologi
Senin, 28 Oktober 2019
Anggota DPR RI Herman Khaeron mengatakan jika jebakan teknologi mengubah banyak kebiasaan.

INFO DPR  Anggota DPR RI, Herman Khaeron, mengatakan jika Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober tidak sama seperti di masa-masa menjelang kemerdekaan. Di masa sekitar 1928 hingga menuju titik kulminasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 ada tiga komitmen yang dijaga pada masa itu yakni tanah air satu, kebangsaan dan bahasa. Pada masa sekarang, implementasinya berbeda.

Disampaikan Herman saat di Gedung DPR RI Jakarta, Senin, 28 Oktober 2019, pemuda masa kini menghadapi tantangan trap technology (jebakan teknologi). Dia menyontohkan bagaimana saat ini pelayanan pintu tol-pintu tol di jalur bebas hambatan tidak lagi ditangani pekerja-pekerja muda, namun sudah diambil alih teknologi. Belum lagi sudut-sudut restoran atau warung jajanan favorit tidak lagi dipenuhi oleh pelanggan mereka, namun digantikan oleh ojek-ojek online melalui pemesanan lewat aplikasi. Teknologi ini juga sudah dirasakan pekerja di media massa, yang kini tidak perlu lagi menemui narasumbernya secara langsung. Untuk mengutip pernyataan para pesohor kini para peliput berita dapat meng-copy statement yang disampaikan di media sosial, Twitter, dan lain sebagainya. 

"Dulu, wartawan dicari-cari loh di fraksi-fraksi, sekarang cukup twit aja, nanti twit-nya juga diambil, kalau menarik nanti juga di-quote," kata Herman. 

Situasi ini harus diwaspadai. Sebab, jika ini dibiarkan terus menerus, pemuda Indonesia akan kehilangan ide dan gagasannya.

“Menurut saya ini jebakan teknologi yang akhirnya secara tidak sadar–karena mencari kerja susah, negara belum menyediakan secara masif, akhirnya ini menjadi pekerjaan yang menjadi tujuan, kalau sudah menjadi tujuan, menjadi kebiasaan, akan hilang ide, gagasan, kreatif. Semuanya itu akan hilang,” kata Herman.

Dan, tanpa bermaksud mendikotomikan antara pemuda dengan orang tua atau pemuda dengan anak-anak, tetapi menurut Herman pemuda adalah simbol kekuatan, lambang kreativitas, dan kaya gagasan.

“Ini jangan disia-siakan dan jangan terjebak pada hal-hal yang isunya terlalu dibesar-besarkan. Sebenarnya, kemerdekaan telah kita raih. Oleh karena itu, bersatu harus kita kuatkan,” ujarnya.

Menurutnya, momen peringatan Sumpah Pemuda ke-91 harus dimaknai bahwa tantangan ke depan lebih besar. Selain jebakan teknologi yang akan terus berlangsung, ada bonus demografi di mana sebanyak 52 persen penduduk didominasi kaum muda. Oleh karena itu, semua langkah masyarakat, termasuk dirinya, kata Herman harus sejalan dengan pembukaan UUD 1945 yang ujungnya bertujuan agar Indonesia bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. (*)