INFO DPR — Anggota DPR RI, Diah Roro Esti, menegaskan jika proyek one belt one road (OBOR) yang akan melintasi Indonesia harus tetap memiliki batasan-batasan (border). Selain itu, proyek OBOR harus taat dengan peraturan yang ada di Indonesia, merangkul local wisdom dan memberikan nilai yang menguntungkan masyarakat (add value).
“Negara lain harus mematuhi peraturan yang ada di Indonesia, jangan seenaknya sendiri,” ujar Esti di Gedung DPR RI, Senin, 28 Oktober 2019.
Kendati demikian, Esti tidak menampik jika Indonesia butuh negara lain, perlu belajar pada negara asing dengan transfer pengetahuan (knowledge transfer) salah satunya Cina. Patut diakui jika kualitas produktivitas sumber daya manusia dari Cina lebih bagus, lebih efektif, dan lebih cepat jika dibandingkan tenaga kerja Indonesia. Menurut Esti, sistem kerja Indonesia dengan kebudayaannya butuh waktu lebih lama unuk merealisasikan sebuah tujuan.
“Kita dengan era globalisasi perlu belajar dengan negara-negara seperti Cina. Gimana caranya? Like it or not, they are the largest economy in the world saat ini, dan kita harus belajar bagaimana negara ini memberdayakan sumber daya manusia dengan produktif dan utuh dan baik. Dengan begitu ada knowledge transfer agar masyarakat Indonesia bisa merealisasikan hal yang sama,” ujar Esti.
Selain knowledge transfer, Indonesia juga tidak bisa menutup diri di bidang investasi agar negara ini bisa berkembang terutama di bidang renewable energy.
Kendati demikian, pemerintah harus membuat aturan yang tegas sehingga value bagi negara asing tidak lebih banyak dibandingkan yang didapat Indonesia. Border-border itu yang harus dipatuhi oleh negara lain. Tidak hanya border fisik dengan batas-batas antar negara dan aturan administrasi yang harus ditaati saat masuk ke Indonesia, ada ketentuan perundangan juga harus diatur oleh pemerintah sehingga masuknya proyek OBOR menguntungkan Indonesia. (*)